fbpx

Relawan dapur umum penjamin kecukupan pangan pengungsi


Bandarlampung ( suaramilenial.com) – Bencana tsunami Selat Sunda yang menerjang Provinsi Lampung dan Banten pada Sabtu, 22 Desember 2018 pukul 22.35 WIB menimbulkan beban bagi korban seperti kehilangan keluarga, harta benda, rumah, mata pencarian dan lainnya.

Dengan bencana yang juga melanda Provinsi Lampung ini, membuat sejumlah organisasi, pemerintah dan lainnya membuka posko kepedulian dan kemanusiaan serta dapur umum untuk para pengungsi. 

Seperti yang terjadi di posko induk pengungsian kantor Gubenur Lampung, kurang lebih sekitar 3.500 pengungsi akibat dampak tsunami, khususnya datang dari warga yang tinggal di pinggir dan sekitar pantai berada di sana dan harus ditangani dari beragam sisi kebutuhan dasarnya. 

Ketua Koordinator Wilayah Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lampung Imam setiawan mengatakan, pada hari pertama jumlah pengungsi mencapai 3.500 orang lebih yang ada di kantor Gubernur Lampung.  Bahkan untuk memberikan konsumsi para pengungsi harus menghabiskan 80 kilogram beras, empat dus mi instan, 40 kilogram telur dan 80 dus air mineral. 

Setiap harinya untuk memberikan sarapan pagi para pengungsi, petugas di dapur umum sudah mulai meracik bumbu dari pukul 04.00 WIB dan masing-masing petugas sudah mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing, dari yang bertugas memasak mi, menggoreng telur, dan masak nasi. 

Setelah lauk pauk berupa nasi, mi dan telur matang, petugas Tagana langsung membungkus dengan dibantu oleh delapan orang Pramuka Peduli Siaga Bencana yang harus cepat membungkus nasi karena pada pukul 07.30 nasi harus sudah didistribusikan kepada para pengungsi yang ada di Kantor Gubernur Lampung itu. 

“Para petugas dapur umum selalu siaga 24 jam, karena dari gelap dan sampai gelap lagi tidak ada istirahatnya,” kata  Imam.

Setelah membagikan nasi, para petugas relawan dapur umum langsung dihadapkan dengan persiapan makan siang yang sudah disiapkan mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB dan pembagian nasi dimulai pada pukul 13.00 WIB setelah semua selesai dimasak. 

Sedangkan untuk makan malam, petugas dapur menyiapkan perlengkapan sejak pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00 dan pembagian nasi pada pukul 18.30 wib (atau setelah shalat magrib).  Bahkan, pada saat waktu sudah menunjukkan waktu pukul 22.00 atau pukul 00.00 (tengah malam) masyarakat masih saja banyak yang datang ke posko baik yang meminta air putih atau obat-obatan bahkan air panas untuk menyeduh kopi atau teh. 

Ya, lanjut dia, namanya dapur umum wajib melayani masyarakat yang ada di pengungsian. Bahkan kadang sering ada masyarakat yang membuat kesal, tapi namanya relawan harus sabar. 

Pengalaman Berharga 

Esti, Pramuka peduli siaga bencana mengatakan membantu melayani korban tsunami Selat Sunda di pengungsian Kantor Gubernur Lampung merupakan pengalaman berharga, karena melayani 3.500 orang lebih dengan berbeda-beda karakter. 

Dengan pengalaman ini, lanjut dia, maka akan bertambah ilmu yang didapat baik di bidang tanggap darut atau lainnya. 

Tanggap darurat bukan hanya saat melakukan evakuasi saja, tetapi di dapur umum juga merupakan tanggap darurat bagaimana cara menenangkan para pengungsi, seperti tentang banyaknya isu hoaks tentang tsunami yang akan terjadi. 

Esti pun mengaku bukan hanya kali ini, tetapi sudah sering menjadi relawan jadi sudah sangat paham sekali tentang karakter para pengungsi. 

Ia mengatakan, walaupun malam pergantian tahun kemarin, bersama dengan kawan-kawan relawan lainnya di pengungsian korban tsunami, tetapi tidak kalah bahagianya, bisa bercanda, tawa sambil menghibur para pengungsi yang ada di lokasi. 

Karena kebersamaan di posko merupakan kebersamaan yang tidak bisa ditukar oleh apapun. Bahkan dengan materi sekalipun. 

Esti mengharapkan, pada tahun 2019 ini bencana segera berakhir, dan para pengungsi bisa kembali ke rumahnya masing-masing dengan suka cita dan keamanan serta nyaman. Karena bila sudah aman maka masyarakat sudah bisa beraktivitasitas seperti biasanya. 

Selain Esti, ada empat petugas yang juga membantu di dapur yaitu seperti Ajeng, Mia, Wati, Putri, dan lainnya. 

Ajeng petugas dapur mengatakan, banyak pengalaman yang bisa di dapat, karena ini merupakan yang perdana untuk membantu para relawan lainnya memberikan makan para pengungsi yang ada di Kantor Gubernur. ? Selain itu, pengalaman pertama untuk memasak 3.500 orang itu merupakan hal yang menyenangkan karena bisa membantu para korban tsunami di pengungsian. 

Bahkan untuk memasak lauk makan pagi, siang dan sore harus menggunakan kuali yang besar dan khusus untuk memasak lauk makan para pengungsi. 

Menurut dia, memasak sayur untuk makan para pengungsi harus berkejaran dengan waktu. Karena bila sudah matang harus segara dibungkus dan dibagikan kepada masyarakat. 

Banyak sekali pelajaran yang bisa didapat di dapur umum para pengungsi ini, seperti melatih kesabaran untuk menghadapi para pengungsi khususnya dari para ibu-ibu. 

Amir, petugas dapur khusus air panas pembuat kopi dan teh mengatakan ini merupakan pengalaman yang kesekian kalinya.  Karena sebelumnya telah ikut menjadi relawan pada musibah Bali Nuraga, Kalianda Lampung Selatan. 

Bila di sini hanya 3.500 orang, tetapi di Bali Nuraga itu terdapat 6.000 orang yang setiap harinya diberikan nasi, termasuk di antaranya kopi dan teh. 

Untuk menyiapkan teh dan kopi dalan satu hari harus menghabiskan kopi 5 bungkus ukuran satu kilogram, gulanya menghabiskan 15 kilogram dan teh 5 kotak. 

Setiap hari membuat kopi dan teh pagi dengan menggunakan dua galon ukuran 20 liter, siang hari satu galon dan malam dua galon air. Semuanya hanya untuk pengungsi yang ada di Kantor Gubernur.  Sedangkan untuk sekali masak air untuk membuat kopi dan teh sebanyak 40 liter air bahkan lebih untuk masyarakat yang ingin meminta air untuk membuat kopi, teh dan susu bayi. 

Kadang, lanjut dia, saat mereka sedang istirahat ada warga yang meminta air panas. Bahkan terkadang jam tiga pagi ada yang minta air panas, dan harus dimasakkan secukupnya. 

Inilah, kisah para relawan di dapur umum yang menjadi garda terdepan menjamin kecukupan makan para korban bencana tsunami Selat Sunda.

Baca juga: Warga kembali salurkan bantuan untuk korban tsunami Pandeglang

Baca juga: Polda Banten salurkan bantuan Rp1 miliar untuk korban tsunami

 

Pewarta:
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019





sumber

Mungkin Anda Menyukai

%d blogger menyukai ini: